Selasa, 18 Maret 2014

Mutiara Impian


“MUTIARA IMPIAN”
June 17th, 2013
            Cita-cita adalah mimpi terindah dalam hidup semua insan didunia. Meraih cita-cita bak meraih mutiara didasar laut, bahkan tarkadang lebih sulit dari itu. Perjuangan demi perjuangan harus dilalui, bahkan perjuangan itu tidak berhenti ketika cita-cita telah tercapai. Mempertahankan cita-cita adalah puncak perjuangan, puncak dimana masalah demi masalah dan rintangan demi rintangan menggoda hati kita.
            Cerita ini berawal ketika aku lulus dari bangku SMP, aku bermimpi untuk menjadi seorang teknisi komputer dan programing, mimpi ini bukan tanpa alasan. Saat kelulusan memang nilai terbaikku adalah TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), disisi lain ayahku memintaku untuk sekolah dipenerbangan agar menjadi pramugari, ini juga bukan tanpa alasan. Beliau menyarankan sekolah diperbangan karena hobiku yang senang berbicara Bahasa Inggris, namun hati ini selalu menolak. Bukan karena aku takut dengan pesawat namun karena saat itu aku sangat sulit berpisah dengan keluargaku, tempat dimana aku dibesarkan, dan tempat aku mengadu setiap ada masalah.
Perdebatan kecil dikeluarga sering kali terjadi dalam perjuanganku meraih mimpi, ayahku tidak begitu rela aku menjadi seorang teknisi komputer karena beliau berpendapat itu adalah pekerjaan laki-laki yang selalu berhubungan dengan listrik, tower, dan perkakas besi. Hari demi hari aku berusaha meyakinkan ayahku, hari demi hari tak henti-hentinya aku memohon kepada Allah untuk membukakan pintu hati ayahku agar beliau mengizinkan aku melanjutkan sekolah disekolah kejuruan sebagai pijakan awal mimpiku. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, akhirnya Allah menjawab doaku dan ayah mengizinkanku untuk melanjutkan disekolah kejuruan. Sungguh tiada keraguan dalam firman Allah Q.S. Ali-Imran ayat 159.
                             
” ... dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Langakah awal telah terbuka, perjuangan selanjutnya adalah pendaftaran di sekolah impian, sebut saja sekolah itu SMK Pelita. SMK Pelita adalah salah satu SMK Negeri favorit dikotaku. Jarak sekolah ini tidak dekat dengan rumahku, kurang lebih 25 KM. Jarak yang lumayan jauh ini terasa sangat dekat ketika seorang wanita yang penuh semangat mengantarku dan menyemangati setiap langkahku “IBU” ibuku tidak merasa lelah sedikitpun. Pagi itu, usai pulang berjualan dipasar ibuku mengantarku ke SMK Pelita untuk mendaftar, pada saat itu aku mendapat nomor daftar 213, padahal quota siswa untuk jurusan yang ku pilih hanya untuk 40 siswa, hati ini tetap optimis walau rasa takut tidak diterima selalu menghantui.
Hari berikutnya adalah test seleksi calon siswa baru, ujian tertulis dilaksanakan serentak dengan jurusan lainnya. Total pendaftar pada saat test untuk jurusanku kurang lebih ada 300 siswa. Pada saat ujianpun ibuku setia mendampingiku, beliau menunggu diteras masjid sekolahan sambil berdoa kepada Allah agar aku dimudahkan dalam mengerjakan seleksi itu. Begitu juga ketika test fisik dan wawancara, lagi-lagi ibuku mengantar dan mendampingi ku, menyemangatiku kala aku mulai lelah dan tidak yakin. Sungguh ibuku adalah sosok yang setia, dan kasih sayangnya tiada tara.
Setelah semua test seleksi masuk terselesaikan, inilah sesi penantian pengumuman. Hari demi hari ku lalui dengan rasa was-was dan binggung. Aku tak tahu lagi akan mendaftar ke Sekolah Kejuruan Negeri mana untuk langkah awal mimpiku jika aku tidak diterima di SMK Pelita. Aku sangat lemah, namun Ibuku selalu yakin kalau aku dapat diterima disekolah itu, padahal aku hanya siswa yang berkemampuan pas-pasan, bukan siswa yang berprestasi dari kebanyakan siswa yang mendaftar.
Segala bentuk usaha telah dihempaskan, kini tinggal menunggu hasilnya sambil berdoa kepada Allah yang maha memberi yang terbaik. Setiap jam 3 pagi ibu selalu membangunkanku untuk sholat tahajud, beliau selalu mengajakku puasa senin-kamis. Dalam setiap sujudku aku selalu memohon hasil yang terbaik. Apapun hasilnya saat itu aku benar-benar terima. Disisi lain ibuku selalu berdoa agar Allah mengabulkan impian-impianku. Sungguh ku bersandar pada keputusan Allah.
Waktu yang ku tunggu-tunggu telah tiba, hari itu tepat pada hari Senin, 14 Juli 2008 aku dan ibu berangkat ke SMK Pelita untuk melihat pengumuman, jantung ini berdebar begitu cepat, tubuh ini semakin gemetar ketika memasuki gerbang SMK Pelita. Ribuan calon siswa baru memenuhi halaman sekolah, tidak sedikit dari mereka yang datang ditemani oleh kakak ataupun orangtua mereka. Dan betapa beruntungnya aku yang juga ditemani oleh sosok ibu yang siap menerima apapun hasilnya.
Terlihat samar-samar tabel nama dalam lembaran kertas yang tertempel didinding pengumuman. Aku dan ibu bergerak mengantri dari belakang, terdengar jelas tangisan dari beberapa siswa yang tidak lulus seleksi, bahkan ada yang pingsan ditempat. Langkah demi langkah semakin mendekati papan pengumuman, dibaris antrian ketiga kakiku terhenti kaku dan aku melihat namaku tercantum diperingkat ke-20. Subhanallah, sontak seketika itu juga aku dan ibuku sujud syukur dan pelukan hangat darinya terasa jelas ditubuhku.
Seusai melihat pengumuman aku dan ibu menuju masjid sekolah untuk sholat dhuha serta melafalkan puji syukur atas nikmat Allah. Sembari perjalanan pulang aku dan ibuku mencari kos untuk aku tinggal, saat itu kebetulan ada orangtua temanku yang menawari tempat kos putri, Alhamdulillah Allah memudahkan jalan kami. Terima kasih ya Allah, terima kasih ibu, doa dan perjuanganmu kini membuahkan hasil yang sangat manis.

“. . . barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (Q.S. Ath-Thalaaq : 2)

            Jalan menjemput mutiara impian telah berhasil ditemukan, kini tiba saatnya aku menyusuri jalan itu. Hari-hari ku lewati dengan indah, disekolah ini aku banyak mengenal teman dari luar daerah, dengan beragam bahasa, sikap dan kepribadian, namun disamping itu hati ini terus merasa berat untuk tinggal jauh dari orangtua, tapi ini adalah pilihanku dan ini adalah mimpiku. Aku mencoba untuk mengerti, aku mencoba untuk menenangkan hati karena suatu hari nanti aku juga akan terpisah dari orangtuaku, baik terpisah karena pernikahan atau juga dunia yang memisahkan. Aku harus belajar mandiri, aku harus mampu menjaga diri.
Langkah awal dikelas 1 hampir semua teman bersahabat kecuali 1 temanku sebut saja namanya Selly. Entah apa yang dia temukan dari sosokku, tapi dari awal dia sangat membenciku, namun aku tak mau ambil pusing dengan semua tingkahnya terhadapku. Dikelas 1 ini Selly selalu berbuat usil kepadaku, mulai dari fitnah kecil mengambil buku teman yang lain, sampai menfitnahku mengambil HP teman. Tapi syukurlah semua teman percaya jika aku hanya difitnah, teman-temanku mengerti aku tidak mungkin melakukan itu, karena memang aku adalah tipe orang yang suka bergaul dengan teman-teman yang lainnya, dan tidak suka menyendiri sehingga tidak mungkin ada waktu untuk mengambil barang-barang milik temanku.
Mungkin Allah begitu menyayangiku, sehingga Ia menguji kesabaranku tiada henti. Cobaan datang tidak hanya dari Selly, diawal cerita sudah aku katakan bahwa aku bukan siswa yang pintar jika dibanding teman-temanku yang lulus seleksi di SMK Pelita. Cobaan lain datang dari pelajaran, banyak sekali pelajaran yang tidak aku kuasai diawal tahun ini, apalagi pelajaran wajib jurusan Teknik seperti pelajaran fisika dan kimia. Bagaimana aku bisa paham pelajaran gurunya aja tidak pernah masuk kelas, jikalau masuk kelas beliau hanya memberi tugas saja.
Alhasil pada saat pembagian Raport kelas 1 nilaiku jatuh dan terpental jauh. Sang wali kelas pun menyarankan pada Ibuku agar aku mengambil les privat fisika dan kimia. Tak lama setelah raport dibagikan aku dan ibu langsung menuju tempat kos ku, setelah sampai dikos ibu pun memarahiku. Ya Allah, sungguh tidak tenang rasanya melihat ibuku kecewa. Maafkan aku Bu, aku berjanji akan lebih giat belajar.
Lembaran baru dikelas 2 dimulai, kini aku menjadi anak yang sedikit pendiam dibanding sebelumnya, akhirnya waktu main bersama teman-temanpun sedikit aku kurangi. Aku lebih suka menemui guru mata pelajaran ketika istirahat dan pulang sekolah untuk berdiskusi bersama. Aku sangat takut membuat ibu marah lagi. Karena murka Allah tergantung murka orangtua, sedikitpun aku tak ingin membuat Allah murka kepadaku. Ternyata langkah yang ku ambil salah, baru beberapa minggu saja Selly dengan mudahnya mempengaruhi teman-teman. Dia menyebar fitnah aku mencari muka didepan guru-guru agar mendapat nilai baik.
Hari demi hari kudapati teman-temanku menghindariku, ya Allah aku pasrah. Aku merasa hidup ini begitu berat. Setiap hari dibuku catatanku banyak sekali coretan yang berisi hujatan yang menyayat hati, sungguh aku ingin bercerita pada ibuku, tapi aku takut membuat beliau semakin marah. Sebisaku aku menutupi kesedihanku sebagaimana perintah Allah untuk tidak mengeluh, aku paham betul nikmat yang Allah berikan kepadaku tak terhitung jika dbandingkan dengan cobaan-cobaan ini. Sebagaimana firman-Nya Q.S. An-Nahl ayat 18:
“dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Suatu hari, Kepala Program Studi ku Bu Santi menawariku untuk membantunya mengajar kakak kelas dan bapak-ibu guru yang sebentar lagi akan ada ujian komputer. Memang prestasi akademik ku kurang begitu bagus tapi untuk masalah operasional komputer aku telah jatuh cinta untuk terus menekuninya sejak dulu. Disinilah aku semakin dekat dengan guru-guruku, namun disini juga aku semakin jauh dari teman-temanku. Lagi-lagi aku harus siap menjalani pilihanku. Dikelas 2 inilah kemudian prestasiku kembali pulih, diakhir semester tak disangka karena keuletanku belajar dan sering diskusi dengan guru-guru aku mendapat rangking 13. Sebuah peringkat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya dan akupun dapat melihat kembali senyum ibuku. Namun begitu, konflik antara aku dan Selly tak kunjung hilang, Selly selalu mencoba menfitnahku, bahkan dia juga pernah mengadu domba ku dengan sahabat baikku Lina, sehingga aku dan Lina bertengkar hebat hanya karna salah paham.
Tidak berhenti disitu pada awal kelas 3, kita semua ditugaskan untuk Praktek Kerja Langsung (PKL). Pada saat pembagian kelomok kebetulan aku dan Selly mendapat tempat yang sama, ada 5 anggota dikelompok kami saat itu. Rasanya hatiku ingin sekali menangis, tapi aku yakin pasti akan ada hikmah dibalik rencana ini. Tak ku sangka pada saat itu Selly bertingkah sangat berbeda, dia bagitu baik dan perhatian padaku, kemana-mana dia mengajakku. Sungguh aku terlena, bahkan dia lebih baik daripada Lina sabahatku yang dulu.
Hari-hari ku lalui dengan Selly begitu akrab, baru kali ini juga dia tidak iri ketika direktur tempat kami PKL memintaku untuk mengajar mahasiswa D1 dalam pelajaran operator komputer, justru Selly sangat mendukungku. Suatu hari ketika kita sedang berada ditempat PKL aku mendapat telpon dari kepala jurusan ku Bu Santi, beliau menanyakan tentang kabarku. Aku sangat bahagia mendengar pertanyaan beliau yang begitu perhatian kepadaku, namun tak pernah kuduga, tiba-tiba beliau menanyakan padaku apakah aku hamil?
Tentu aku sangat kaget, ya Allah, cobaan macam apalagi ini, seketika itu pula aku menangis. Aku berserah kepada Allah, atas segala cobaan yang menghampiriku, aku berdoa memohon kepada Nya untuk menunjukan jalan kebenaran. Tidak ada satu orangpun yang aku curigai saat itu, Selly yang biasanya sering menfitnahku kini telah menjadi sahabat  baikku. Namun, siapakah yang tahu hati manusia? Hanya Allah yang maha tahu. Setelah tugas PKL kami selesai aku langsung menemui Bu Santi untuk meluruskan fitnah itu, dan akupun bertanya siapakah yang memberi tahu ibu tentang fitnah itu? seketika tubuhku menjadi lemas ketika beliau bilang bahwa Selly yang mengatakan.
Dikelas 3 inilah hatiku benar-benar hancur. Semua teman-temanku membenciku karena ulah Selly ketika kelas 2 dulu, dan ketika kelas 3 aku hanya mempunyai Selly sebagai sahabatku, namun ternyata dia berhianat dan menusukku dari belakang. Tapi aku selalu bersyukur kepada Allah, karena cobaan demi cobaan itu aku selalu berusaha untuk kuat dan lebih dekat dengan Nya.
Banyaknya cobaan membuatku merasa sangat lama bersekolah di SMK Pelita ini. Akhirnya waktu kelulusan pun tiba, sujud syukur kepada Allah yang memberikanku hadiah terindah. Ketika lulusan dan dengan disaksikan Ibuku aku mendapat Rangking 9, aku mendapat juara 10 besar. Bahkan aku adalah siswa terbaik dalam ujian praktek akhir perakitan komputer dan server Internet, kini mutiara impian telah kugenggam. Sungguh jika kita menghitung nikmat Allah, kita tidak mungkin bisa menjumlahnya, dan sungguh Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya diluar batas kemampuan hamba-Nya.
Teman-tamanku yang tadinya membenciku satu per satu memberi ucapan selamat dan minta maaf, kecuali Selly. Entah, mungkin karena dia merasa malu dan belum mau mengakui kesalahannya. Diakhir cerita, 1 minggu setelah kelulusan dikabarkan Selly akan menikah karena telah hamil diluar nikah. Inalillahi wa innailaihirajuin segala sesuatu akan kembali pada Allah. Kejadian ini mengingatkan saya pada firman Allah surat Al-Baqarah ayat 286

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. . . . . .”

Oleh : Fitri Fajar Nur Indahsari//Az-Zahra Astari

1 komentar: