Cinta terakhir di kota Budaya
Hay guys, gimana kabar cinta kalian hari
ini...? Bicara soal cinta memang tidak ada batasnya. Tidak ada batas ceritanya,
tidak ada juga batas usia. Bagaimana tidak dari kita masih dalam kandungan kita
sudah butuh cinta, sampai kita mau matipun kita masih butuh cinta.
Ngomong-ngomong soal cinta, apa sich
arti cinta buat kamu...? Setiap orang pasti punya arti yang berbeda, tapi tidak
ada yang salah satu dengan yang lainnya. Ini kisahku, dan inilah cinta
menurutku. Cinta adalah getaran rasa yang tidak cukup diungkapkan dengan kata,
dan tidak akan selesai dibuktikan dengan nyawa. Cinta adalah kebutuhan setiap
insan. Cinta adalah rasa yang rumit, melelahkan, mengairahkan, menghidupkan,
bahkan cinta mungkin dapat mematikan.
Kenalin namaku Fatin, aku asli dari
Aceh. Cerita cintaku berawal ketika aku kelas 5 SD. Ceritanya aku naksir berat
sama kakak tingkatku, sebut saja namanya okie. Disinilah semangat masuk
sekolahku naik 75%. Sebelum aku cerita banyak tentang cinta pertamaku ini,
pasti kalian berfikir ini adalah cinta monyet, alasannya sudah pasti karena aku
masih kecil. Tapi ini cintaku, ini bukan cintamu, dan ini bukan cinta mereka.
Sebuah aksi gila sempat aku lakukan
dikelas 5 SD, dengan sangat PeDe pagi-pagi sebelum jam sekolah dimulai aku
memberi bingkisan ke Kak Okie yang isinya buku dan coklat. Ya, maksudnya sich
baik, kebetulah kak Okie adalah siswa terpandai dikelas, jadi siapa tahu dia
suka baca. Dan maksud cokelatnya sudah pasti itu adalah maksud tanda cintaku
padanya, dalam bingkisan itu aku juga menulis surat kecil yang berisi aku
sangat mencintainya. Bayangkan, kelas 5 SD aku sudah rela melakukan hal yang
gila untuk seseorang lelaki. Tapi, ya itulah kisahku dengan makna cinta yang
sangat sederhana dari hatiku.
Masih penasaran dengan respon kak Okie,
jam 9 lebih 15menit bell istirahat berbunyi dan aku terkagetkan melihat kak
Okie sudah berdiri didepan kelasku. Dengan sangat yakin aku tahu, pasti dia datang
untuk bilang dia menerima cintaku. Tanpa berfikir panjang naluriku menuntun
untuk segera menemuinya, dan betapa kagetnya aku mendengar kata-kata kak Okie
“Fatin, maaf aku tidak cinta sama kamu”. Seketika itu rasa cintaku langsung
berubah menjadi rasa benci dan sangat malu, teman-teman sekelasku dan
teman-teman sekelas kak Okie menyaksikan kak Okie bilang itu. Aku langsung lari
dan menangis di tempat dudukku dan teman-temanku asyik mengejekku dengan
mengulang kata-kata kak Okie.\
Ketika waktu kelulusan tiba, aku sangat sedih, bagaimana tidak. Kalaupun cintaku ditolak setidaknya dulu aku masih bisa melihat kak Okie ketika jam istirahat atau diluar jam pelajaran. Tapi sekarang aku tidak bisa lagi melihatnya disekolah. Gairah untuk pergi kesekolah akhirnya menurun, belajar nggak bisa masuk, istirahat cuma dikelas, pikiran nggak jelas, pokoknya patah hati itu nggak enak. Kalo kata orang jatuh cinta itu bisa mengalihkan tai kucing serasa coklat, tapi kataku patah hati itu juga bisa mengubah coklat serasa obat. Pokoknya nggak enak dan pahit banget, bikin sesek didada.
Ketika waktu kelulusan tiba, aku sangat sedih, bagaimana tidak. Kalaupun cintaku ditolak setidaknya dulu aku masih bisa melihat kak Okie ketika jam istirahat atau diluar jam pelajaran. Tapi sekarang aku tidak bisa lagi melihatnya disekolah. Gairah untuk pergi kesekolah akhirnya menurun, belajar nggak bisa masuk, istirahat cuma dikelas, pikiran nggak jelas, pokoknya patah hati itu nggak enak. Kalo kata orang jatuh cinta itu bisa mengalihkan tai kucing serasa coklat, tapi kataku patah hati itu juga bisa mengubah coklat serasa obat. Pokoknya nggak enak dan pahit banget, bikin sesek didada.
Tapi, ternyata aku masih beruntung.
Kebetulan ketika kak Okie lulus ibunya pindah tugas menjadi guru bahasa Inggris
di Sekolahku, jadi masih ada kesempatan untuk bertemu kak Okie dirumahnya
dengan alasan tanya pelajaran sama ibunya. Karena kebiasaan anehku ibu kak Okie
jadi lebih perhatian ke aku daripada ke teman-temanku, dan pada saat ada speech
contest aku ditunjuk untuk mewakili sekolah. Pokoknya aku beruntung banget,
karena kesempatan ketemu kak Okie lebih banyak lagi, ada alasan tanya
pelajaran, ada alasan latihan untuk lomba, pokoknya ada-ada aja alasan untuk
bisa ketemu sama dia, yang pasti aku tidak mensia-siakan keberuntungan ini.
Suatu hari ketika aku datang untuk
latihan aku sempat tanya pada ibu kak Okie dimana kak Okie sekarang sekolah,
dan ternyata kak Okie melanjutkan ke salah satu SMP favorite dikota Aceh,
alhasil aku tahu kemana aku melanjutkan sekolah setelah ini, namun mendengar
kabar itu aku harus semangat belajar agar aku bisa masuk ke sekolahan yang
sama. Ternyata cinta bisa mengubah gairah seseorang, cinta juga bisa
mempengaruhi kemana kita melangkah selanjutnya, dan cinta telah mengubah jalan
fikiranku.
Setelah aku lulus SD aku melanjutkan ke
SMP dimana kak Okie sekolah. Lega banget rasanya bisa satu sekolah lagi sama
orang yang dicinta, jika ingat kejadian kelas 5 SD dulu aku memang malu dan
sakit hati, tapi kenyataan membuatku memaafkan semuanya walau sudah disakiti.
Satu lagi fakta tentang cinta, ternyata cinta bisa memaafkan sebesar apapun
sakit yang beri oleh orang yang dicintai. Tapi bukan berarti kita bisa berlaku
sesuka kita sama orang yang mencintai kita, semua bisa berbalik kekita sendiri,
jadi hati-hati dengan cinta dalam hati.
Kelas 1 SMP aku hanya bisa
memperhatikannya dari jauh. Aku hanya bisa menggagumi kak Okie tanpa satu
orangpun yang tahu. Tapi kali ini rasanya lain, jika dulu hanya aku yang
memperhatikannya, sekarang aku merasa kak Okie lebih sering memperhatikanku, entah
kenapa aku juga tidak tahu, dia sering memandangiku di jam istirahat, dia juga
sering main didepan kelasku sebelum jam pelajaran dimulai. Mungkin karena
penampilanku yang sengaja aku rubah total, atau mungkin juga karena dia baru
sadar bagaimana perjuanganku untuk menyatakan cinta, yang jelas aku merasa
cintaku tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Walau begitu, setahun di SMP semua
masih biasa saja, aku masih diam dalam kekagumanku, dan kak Okie juga tidak
mengatakan apapun padaku.
Tahun kedua aku di SMP. Jika tahun
pertamaku masih ada rasa malu, dan penuh dengan adaptasi, tahun kedua ini
adalah tahun yang paling aku nikmati sebelum memikirkan ujian kelulusan ditahun
ke-tiga. Ditahun ini semua berbalik arah. Seperti yang aku bilang tadi,
berhati-hati dalam memperlakukan cinta, akan membuat kita lebih aman, segalanya
bisa berbalik kekita. Tiba-tiba dihari selasa seusai sekolah di perjalanan
menuju tempat les, kak Okie dan teman-temannya berjalan dibelakangku. Aku pikir
mereka ingin pergi kerumah temannya atau kemana, sehingga aku sengaja mengambil
jalan yang berbeda agar aku tidak salah tingkah melihat kak Okie. Tapi ternyata
mereka semua membuat kejutan untukku, tanpa aku sangka mereka menerobos jalan
dan sampai didepanku, dengan membawa setangkai bunga mawar kak Okie bilang
“Fatin, kamu mau nggak jadi cewekku..?”
Aku memang masih suka sama kak Okie,
tapi kalau ingat ketika dia mempermalukanku ketika masih SD, jelas sakit hati
itu muncul kembali. Jadi, dengan tegas aku bilang “maaf kak, aku nggak cinta
lagi sama kak Okie”, dan setelah itu aku lari masuk keruang kelas ditempat
les-lesan dan aku menanggis didalam ruangan karena aku telah membohongi hatiku.
Akhirnya hari-hari selanjutnya disekolah aku lalui biasa saja, mungkin ini
saatnya aku belajar, ini belum saatnya aku menyatakan cinta dan menerima cinta,
toh aku masih kelas 2 SMP, masih panjang jalanku menjemput mimpi, masih banyak
yang harus aku pelajari tentang cinta dan skandal didalamnya.
Ketika kenaikan kelas dan kak Okie
lulus, aku tidak merasakan gundah lagi, aku tidak binggung lagi kemana aku
harus melanjutkan sekolah karena kini aku sendiri dengan cinta yang berasal
dari impian dan cita-citaku. Masa SMA kita lewati dengan jalan sendiri-sendiri,
kak Okie dengan kejeniusannya masuk ke SMA Negeri dibidang IPA, dan aku bersama
kesenanganku mendaftar di SMK dan mengeluti bidang TEKNIK KOMPUTER. Pokoknya
disini kita bener-bener tidak saling mengejar dan mencoba melupakan cinta yang
ada.
Tahun 2010 aku lulus dari SMK, entah
kenapa tiba-tiba aku ingin melanjutkan sekolah. Memasuki gerbang kampus aku
memutuskan untuk merantau kepulau seberang, melewati berbagai kota dari sekian
banyak kota di Sumatera, melewati selat
sunda, langkahku tertuju ke kota kecil di pulau Jawa, tepatnya di provinsi Jawa
Tengah dan lebih jelasnya lagi dikota “SOLO”, kota yang sangat terkenal dengan
sebutan kota budaya, kota yang sangat terkenal dengan lembut tutur katanya dan
sangat bertolak belakang dengan karakter daerahku yang memang sudah terkenal
keras dan tegas. Aku mencoba mendaftar
di UNIVERSITAS SWASTA di kota Budaya itu, aku mengambil jurusan yang sangat
bertolak belakang dengan keahlianku sebelumnya, jika aku lulusan TEKNIK
KOMPUTER, kali ini aku mendaftar di KEDOKTERAN, jurusan yang tidak pernah aku
fikirkan sebelumnya, tapi entahlah yang ada difikiranku saat itu adalah aku
ingin kuliah di kedokteran.
Seperti
biasa diawal masuk sekolah dan kuliah kita semua merasakan yang namanya OSPEK
atau MOS, disini kita merasa dikerjain habis-habisan sama kakak tingkat dengan
kedok pengodokan karakter dan kedisiplinan, karena kerasnya OSPEK pada hari
ketiga aku jatuh sakit, tapi tidak ada yang berani bicara pada panitia dan
akhirnya aku jatuh pingsan dilapangan. Ketika sadar, aku sudah dibawa ketepi
dan banyak sekali tim kesehatan disana, dan baru aku tahu ternyata kepalaku
berada dipangkuan salah satu timkes, dengan rasa masih berat untuk membuka mata
aku terkejut bahwa ternyata yang memangku kepalaku adalah kak Okie.
Dengan
perasaan bercampur-campur aku langsung bangun dan pergi ke kamar mandi, semua
seperti dalam mimpi, film, dongeng dan penuh dengan skenario. Tubuhku kaku tak
bertenaga, aku binggung harus bilang apa jika ketemu lagi dengan dia, aku
memutuskan tidak kembali ditempat istirahat tapi aku langsung masuk dibarisan
OSPEK dengan penuh tanda tanya bagaimana semua ini bisa terjadi dan kenapa
semua ini harus terjadi.
Seusai
masa OSPEK masa kuliah aku lalui dengan sejuta bayangan dan tanda tanya tentang
kak Okie, sampai pada suatu hari disemester dua aku mengajukan beasiswa
berprestasi. Aku mencoba menghilangkan semua tanda tanya dan rasa penasaranku,
aku mencoba fokus kuliah dan harus mendapatkan beasiswa agar orangtuaku tidak
merasa terlalu berat membayar uang kuliah. Pengajuan beasiswa diterima dan aku
banyak menghabiskan waktuku bersama teman-teman sehingga sedikit demi sedikit
tanda tanya itu menghilang, namun suatu hari seluruh penerima beasiswa
berprestasi di fakultas Kedokteran dari semua angkatan dikumpulkan untuk
mendapat pengarahan tentang pembuatan program kreatifitas mahasiswa yang wajib
diikuti oleh seluruh mahasiswa penerima beasiswa prestasi, disini aku kembali
dipertemukan dengan kak Okie.
Pertemuan
demi pertemuan kita lalui bersama, namun tidak ada tutur kata yang terucap
antara aku dan dia, mungkin dalam hatinya masih tersimpan banyak pertanyaan
tentangku, seperti banyaknya pertanyaan yang megganggu fikiranku. Tanggal 1
Desember 2012 aku mencoba untuk menutup fikiraku tentang kak Okie, aku mencoba
untuk tidak lagi memikirkannya dan akhirnya aku memutuskan untuk membuka hati
kepada seorang lelaki berama Hasan. Hasan adalah mahasiswa semester 7, dia satu
angkatan dengan kak Okie tapi aku tidak tahu kalau ternyata dia adalah teman
satu kelas kak Okie, bahkan dia adalah teman dekat kak Okie.
Mungkin
ini rasanya tai kucing, pengennya melupakan malah dapet teman deket orang yang
disayang. Alhasil, aku tidak bisa melupakan tapi justru kepikiran terus.
Entahlah, aku merasa aku sangat bodoh menyakiti orang yang pernah mencintaiku,
tapi kadang aku juga berfikir aku nggak salah milih Hasan, mungkin saja kak
Okie sudah punya cewek, toh dia tidak lagi menyatakan cinta sama aku, jangankan
nyatakan cinta menyapa saja tidak, atau mungkin kak Okie sedang merasa hanya
bertemu orang yang mirip denganku sehingga dia diam saja melihatku.
Diujung
kuliah Hasan, tepatnya ketika dia wisuda dia menyatakan niatnya untuk segera
meminangku. Dia ingin bicara kepada orangtua ku tentang hubunganku dan dia,
Hasan ingin aku menjadi pendamping hidupnya. Niat Hasan yang disampaikan padaku
tidak langsung aku sampaikan ke orangtuaku, aku mencoba mencari waktu yang
tepat untuk membicarakan hal yang sangat serius ini. Tiga hari setelah Hasan
bicara padaku, tiba-tiba ayahku menelphone bahwa ada kiriman surat untukku
anehnya surat itu dari Solo, tapi kenapa dikirim di Aceh, padahal aku masih ada
di Solo. Mungkin surat dari teman SMP ku, atau surat dari teman SMA ku, dengan
rasa sedikit penasaran aku meminta ayah untuk mengirimkan surat itu ke alamat
tinggalku di Solo.
Sekitar
4 hari aku menunggu, aku sobek tepi amplop surat itu dan aku baca isi suratnya.
Hati ini menanggis tersayat membaca isi surat itu, ternyata surat itu surat
dari kak Okie. Sebenarnya dia tahu bahwa orang yang berada dipangkuannya ketika
pingsan diupaca OSPEK adalah aku, dia tahu bahwa orang yang dilihatnya disetiap
pertemuan beasiswa berprestasi adalah aku, dan dia sangat tahu bahwa pacar
Hasan teman dekatnya adalah aku. Ternyata dia tidak bicara padaku karena dia
ingin merasakan apa yang pernah aku lakukan untuknya, dia ingin merasakan
rasannya memendam cinta, dia ingin merasakan bagaimana sakitnya sendiri setelah
ditolak cintanya.
Dihari
yang sama ketika aku membaca surat itu, Hasan menelphone ku untuk bertemu. Dia bilang
bahwa dia juga mendapat surat dari kak Okie yang berisi bahwa sebenarnya dia
masih sangat mencintaiku dan mengharapkanku untuk kembali mencintainya, tapi
dengan penuh kewibawaan dan kerelaannya kak Okie merelakanku dan meminta Hasan
untuk menjagaku. Kabar terakhir yang aku dengar kak Okie menderita sakit GBS
(Guillain Barre Syndrome) yaitu penyakit yang sangat mematikan dimana sistem
imun-nya menyerang salah satu sistem saraf perifer, dokterpun tidak tahu sampai
kapan kak Okie menderita sakit itu. bahkan kemungkinan untuk sembuhpun sangat
minim sekali.
Hatiku sakit dengan berbagai penyesalan,
kenapa aku tidak memulai pembicaraan ketika sering bertemu dengannya, kenapa
aku lari dari pangkuannya ketika aku tahu siapa dia. Dan yang lebih membuatku sakit adalah, aku tidak
bisa melakukan apapun ketika dia tersakiti olehku. Aku tidak bisa lagi melihat
wajahnya, kini aku tidak bisa lagi melihat senyum dan tawanya, andai aku bisa
memohon pada Yang Maha Esa aku ingin merawatnya sampai hembusan nafas terakhir,
aku ingin menjadi pendamping yang membahagiakannya. Tapi semua tidak mungkin,
tidak mungkin aku meninggalkan Hasan, aku sangat tahu bagaimana dia
mencintaiku, aku sangat tahu bagaimana dia menginginkanku menjadikan
pendampingnya.
Sungguh aku tidak ingin menyakiti Hasan
sebagai calon tunanganku, tapi jujur hatiku akan sangat merasa sakit dan
bersalah yang membiarkan kak Okie menahan sakit fisiknya dan sakit hatinya. Aku
yakin semua ini adalah kehendak Sang Maha Tahu, ini adalah jalan hidup yang
digariskan untukku “HASAN” adalah cinta terakhirku, disini, dikota Solo ini
cintaku berakhir.
Ini adalah pertanda bahwa kadang yang
sangat kita cintai sejatinya bukanlah yang terbaik untuk kita, dan sesuatu yang
biasa saja adalah yang terbaik untuk kita. Sepenggal cerpen ini aku
persembangkan untuk orang yang setia dan sabar menghadapi liku-liku cinta dalam
hidupnya, aku persembahkan untuk orang-orang yang memiliki cinta sejati, dan
orang-orang yang bertekad membawa cintanya sampai disyurga-Nya nanti.
BIODATA NARASI
Az-zahra Astari dilahirkan di pulau jawa pada
tanggal 19 Maret 1994 tepatnya di Ds. Jiwan, Ngrombo, Plupuh, Sragen Jateng.
Pemilik nama asli Fitri Fajar Nur Indahsari, yang akrab dipanggil Sari ini ingin
sekali menjadi pendidik yang menghasilkan tulisan-tulisan inspiratif. Jika
ingin berkomunikasi dengan penulis dapat menghubungi dialamat email :
efifanurinsa@yahoo.com . “menulis itu
bukan hanya dari satu ruang hati, tapi menulis itu dengan melihat semua sudut
hati, dan hati yang berbeda-beda” –Fitri Fajar Nur Indahsari-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar