“MUTIARA
IMPIAN”
June 17th, 2013
Cita-cita adalah mimpi terindah
dalam hidup semua insan didunia. Meraih cita-cita bak meraih mutiara didasar
laut, bahkan tarkadang lebih sulit dari itu. Perjuangan demi perjuangan harus
dilalui, bahkan perjuangan itu tidak berhenti ketika cita-cita telah tercapai. Mempertahankan
cita-cita adalah puncak perjuangan, puncak dimana masalah demi masalah dan
rintangan demi rintangan menggoda hati kita.
Cerita ini berawal ketika aku lulus
dari bangku SMP, aku bermimpi untuk menjadi seorang teknisi komputer dan
programing, mimpi ini bukan tanpa alasan. Saat kelulusan memang nilai terbaikku
adalah TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), disisi lain ayahku memintaku
untuk sekolah dipenerbangan agar menjadi pramugari, ini juga bukan tanpa alasan.
Beliau menyarankan sekolah diperbangan karena hobiku yang senang berbicara
Bahasa Inggris, namun hati ini selalu menolak. Bukan karena aku takut dengan
pesawat namun karena saat itu aku sangat sulit berpisah dengan keluargaku,
tempat dimana aku dibesarkan, dan tempat aku mengadu setiap ada masalah.
Perdebatan
kecil dikeluarga sering kali terjadi dalam perjuanganku meraih mimpi, ayahku
tidak begitu rela aku menjadi seorang teknisi komputer karena beliau
berpendapat itu adalah pekerjaan laki-laki yang selalu berhubungan dengan
listrik, tower, dan perkakas besi. Hari demi hari aku berusaha meyakinkan
ayahku, hari demi hari tak henti-hentinya aku memohon kepada Allah untuk
membukakan pintu hati ayahku agar beliau mengizinkan aku melanjutkan sekolah disekolah
kejuruan sebagai pijakan awal mimpiku. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah,
akhirnya Allah menjawab doaku dan ayah mengizinkanku untuk melanjutkan
disekolah kejuruan. Sungguh tiada keraguan dalam firman Allah Q.S. Ali-Imran
ayat 159.
” ... dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Langakah
awal telah terbuka, perjuangan selanjutnya adalah pendaftaran di sekolah
impian, sebut saja sekolah itu SMK Pelita. SMK Pelita adalah salah satu SMK
Negeri favorit dikotaku. Jarak sekolah ini tidak dekat dengan rumahku, kurang
lebih 25 KM. Jarak yang lumayan jauh ini terasa sangat dekat ketika seorang
wanita yang penuh semangat mengantarku dan menyemangati setiap langkahku “IBU”
ibuku tidak merasa lelah sedikitpun. Pagi itu, usai pulang berjualan dipasar
ibuku mengantarku ke SMK Pelita untuk mendaftar, pada saat itu aku mendapat
nomor daftar 213, padahal quota siswa untuk jurusan yang ku pilih hanya untuk
40 siswa, hati ini tetap optimis walau rasa takut tidak diterima selalu menghantui.
Hari
berikutnya adalah test seleksi calon siswa baru, ujian tertulis dilaksanakan
serentak dengan jurusan lainnya. Total pendaftar pada saat test untuk jurusanku
kurang lebih ada 300 siswa. Pada saat ujianpun ibuku setia mendampingiku,
beliau menunggu diteras masjid sekolahan sambil berdoa kepada Allah agar aku
dimudahkan dalam mengerjakan seleksi itu. Begitu juga ketika test fisik dan
wawancara, lagi-lagi ibuku mengantar dan mendampingi ku, menyemangatiku kala
aku mulai lelah dan tidak yakin. Sungguh ibuku adalah sosok yang setia, dan
kasih sayangnya tiada tara.
Setelah
semua test seleksi masuk terselesaikan, inilah sesi penantian pengumuman. Hari demi
hari ku lalui dengan rasa was-was dan binggung. Aku tak tahu lagi akan
mendaftar ke Sekolah Kejuruan Negeri mana untuk langkah awal mimpiku jika aku
tidak diterima di SMK Pelita. Aku sangat lemah, namun Ibuku selalu yakin kalau
aku dapat diterima disekolah itu, padahal aku hanya siswa yang berkemampuan
pas-pasan, bukan siswa yang berprestasi dari kebanyakan siswa yang mendaftar.
Segala
bentuk usaha telah dihempaskan, kini tinggal menunggu hasilnya sambil berdoa
kepada Allah yang maha memberi yang terbaik. Setiap jam 3 pagi ibu selalu
membangunkanku untuk sholat tahajud, beliau selalu mengajakku puasa
senin-kamis. Dalam setiap sujudku aku selalu memohon hasil yang terbaik. Apapun
hasilnya saat itu aku benar-benar terima. Disisi lain ibuku selalu berdoa agar
Allah mengabulkan impian-impianku. Sungguh ku bersandar pada keputusan Allah.
Waktu
yang ku tunggu-tunggu telah tiba, hari itu tepat pada hari Senin, 14 Juli 2008
aku dan ibu berangkat ke SMK Pelita untuk melihat pengumuman, jantung ini
berdebar begitu cepat, tubuh ini semakin gemetar ketika memasuki gerbang SMK
Pelita. Ribuan calon siswa baru memenuhi halaman sekolah, tidak sedikit dari
mereka yang datang ditemani oleh kakak ataupun orangtua mereka. Dan betapa
beruntungnya aku yang juga ditemani oleh sosok ibu yang siap menerima apapun
hasilnya.
Terlihat
samar-samar tabel nama dalam lembaran kertas yang tertempel didinding
pengumuman. Aku dan ibu bergerak mengantri dari belakang, terdengar jelas
tangisan dari beberapa siswa yang tidak lulus seleksi, bahkan ada yang pingsan
ditempat. Langkah demi langkah semakin mendekati papan pengumuman, dibaris
antrian ketiga kakiku terhenti kaku dan aku melihat namaku tercantum
diperingkat ke-20. Subhanallah, sontak seketika itu juga aku dan ibuku sujud
syukur dan pelukan hangat darinya terasa jelas ditubuhku.
Seusai
melihat pengumuman aku dan ibu menuju masjid sekolah untuk sholat dhuha serta
melafalkan puji syukur atas nikmat Allah. Sembari perjalanan pulang aku dan
ibuku mencari kos untuk aku tinggal, saat itu kebetulan ada orangtua temanku
yang menawari tempat kos putri, Alhamdulillah Allah memudahkan jalan kami. Terima
kasih ya Allah, terima kasih ibu, doa dan perjuanganmu kini membuahkan hasil
yang sangat manis.
“. . . barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
Mengadakan baginya jalan keluar.” (Q.S. Ath-Thalaaq : 2)
Jalan menjemput mutiara impian telah
berhasil ditemukan, kini tiba saatnya aku menyusuri jalan itu. Hari-hari ku
lewati dengan indah, disekolah ini aku banyak mengenal teman dari luar daerah,
dengan beragam bahasa, sikap dan kepribadian, namun disamping itu hati ini
terus merasa berat untuk tinggal jauh dari orangtua, tapi ini adalah pilihanku
dan ini adalah mimpiku. Aku mencoba untuk mengerti, aku mencoba untuk
menenangkan hati karena suatu hari nanti aku juga akan terpisah dari
orangtuaku, baik terpisah karena pernikahan atau juga dunia yang memisahkan.
Aku harus belajar mandiri, aku harus mampu menjaga diri.
Langkah
awal dikelas 1 hampir semua teman bersahabat kecuali 1 temanku sebut saja
namanya Selly. Entah apa yang dia temukan dari sosokku, tapi dari awal dia
sangat membenciku, namun aku tak mau ambil pusing dengan semua tingkahnya
terhadapku. Dikelas 1 ini Selly selalu berbuat usil kepadaku, mulai dari fitnah
kecil mengambil buku teman yang lain, sampai menfitnahku mengambil HP teman.
Tapi syukurlah semua teman percaya jika aku hanya difitnah, teman-temanku
mengerti aku tidak mungkin melakukan itu, karena memang aku adalah tipe orang
yang suka bergaul dengan teman-teman yang lainnya, dan tidak suka menyendiri
sehingga tidak mungkin ada waktu untuk mengambil barang-barang milik temanku.
Mungkin
Allah begitu menyayangiku, sehingga Ia menguji kesabaranku tiada henti. Cobaan
datang tidak hanya dari Selly, diawal cerita sudah aku katakan bahwa aku bukan
siswa yang pintar jika dibanding teman-temanku yang lulus seleksi di SMK
Pelita. Cobaan lain datang dari pelajaran, banyak sekali pelajaran yang tidak
aku kuasai diawal tahun ini, apalagi pelajaran wajib jurusan Teknik seperti
pelajaran fisika dan kimia. Bagaimana aku bisa paham pelajaran gurunya aja
tidak pernah masuk kelas, jikalau masuk kelas beliau hanya memberi tugas saja.
Alhasil
pada saat pembagian Raport kelas 1 nilaiku jatuh dan terpental jauh. Sang wali
kelas pun menyarankan pada Ibuku agar aku mengambil les privat fisika dan
kimia. Tak lama setelah raport dibagikan aku dan ibu langsung menuju tempat kos
ku, setelah sampai dikos ibu pun memarahiku. Ya Allah, sungguh tidak tenang
rasanya melihat ibuku kecewa. Maafkan aku Bu, aku berjanji akan lebih giat
belajar.
Lembaran
baru dikelas 2 dimulai, kini aku menjadi anak yang sedikit pendiam dibanding
sebelumnya, akhirnya waktu main bersama teman-temanpun sedikit aku kurangi. Aku
lebih suka menemui guru mata pelajaran ketika istirahat dan pulang sekolah
untuk berdiskusi bersama. Aku sangat takut membuat ibu marah lagi. Karena murka
Allah tergantung murka orangtua, sedikitpun aku tak ingin membuat Allah murka
kepadaku. Ternyata langkah yang ku ambil salah, baru beberapa minggu saja Selly
dengan mudahnya mempengaruhi teman-teman. Dia menyebar fitnah aku mencari muka
didepan guru-guru agar mendapat nilai baik.
Hari
demi hari kudapati teman-temanku menghindariku, ya Allah aku pasrah. Aku merasa
hidup ini begitu berat. Setiap hari dibuku catatanku banyak sekali coretan yang
berisi hujatan yang menyayat hati, sungguh aku ingin bercerita pada ibuku, tapi
aku takut membuat beliau semakin marah. Sebisaku aku menutupi kesedihanku
sebagaimana perintah Allah untuk tidak mengeluh, aku paham betul nikmat yang
Allah berikan kepadaku tak terhitung jika dbandingkan dengan cobaan-cobaan ini.
Sebagaimana firman-Nya Q.S. An-Nahl ayat 18:
“dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak
dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.”
Suatu
hari, Kepala Program Studi ku Bu Santi menawariku untuk membantunya mengajar kakak
kelas dan bapak-ibu guru yang sebentar lagi akan ada ujian komputer. Memang
prestasi akademik ku kurang begitu bagus tapi untuk masalah operasional
komputer aku telah jatuh cinta untuk terus menekuninya sejak dulu. Disinilah
aku semakin dekat dengan guru-guruku, namun disini juga aku semakin jauh dari
teman-temanku. Lagi-lagi aku harus siap menjalani pilihanku. Dikelas 2 inilah
kemudian prestasiku kembali pulih, diakhir semester tak disangka karena
keuletanku belajar dan sering diskusi dengan guru-guru aku mendapat rangking
13. Sebuah peringkat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya dan akupun dapat
melihat kembali senyum ibuku. Namun begitu, konflik antara aku dan Selly tak
kunjung hilang, Selly selalu mencoba menfitnahku, bahkan dia juga pernah
mengadu domba ku dengan sahabat baikku Lina, sehingga aku dan Lina bertengkar
hebat hanya karna salah paham.
Tidak
berhenti disitu pada awal kelas 3, kita semua ditugaskan untuk Praktek Kerja
Langsung (PKL). Pada saat pembagian kelomok kebetulan aku dan Selly mendapat
tempat yang sama, ada 5 anggota dikelompok kami saat itu. Rasanya hatiku ingin
sekali menangis, tapi aku yakin pasti akan ada hikmah dibalik rencana ini. Tak
ku sangka pada saat itu Selly bertingkah sangat berbeda, dia bagitu baik dan
perhatian padaku, kemana-mana dia mengajakku. Sungguh aku terlena, bahkan dia
lebih baik daripada Lina sabahatku yang dulu.
Hari-hari
ku lalui dengan Selly begitu akrab, baru kali ini juga dia tidak iri ketika
direktur tempat kami PKL memintaku untuk mengajar mahasiswa D1 dalam pelajaran
operator komputer, justru Selly sangat mendukungku. Suatu hari ketika kita
sedang berada ditempat PKL aku mendapat telpon dari kepala jurusan ku Bu Santi,
beliau menanyakan tentang kabarku. Aku sangat bahagia mendengar pertanyaan
beliau yang begitu perhatian kepadaku, namun tak pernah kuduga, tiba-tiba
beliau menanyakan padaku apakah aku hamil?
Tentu
aku sangat kaget, ya Allah, cobaan macam apalagi ini, seketika itu pula aku
menangis. Aku berserah kepada Allah, atas segala cobaan yang menghampiriku, aku
berdoa memohon kepada Nya untuk menunjukan jalan kebenaran. Tidak ada satu
orangpun yang aku curigai saat itu, Selly yang biasanya sering menfitnahku kini
telah menjadi sahabat baikku. Namun,
siapakah yang tahu hati manusia? Hanya Allah yang maha tahu. Setelah tugas PKL
kami selesai aku langsung menemui Bu Santi untuk meluruskan fitnah itu, dan
akupun bertanya siapakah yang memberi tahu ibu tentang fitnah itu? seketika
tubuhku menjadi lemas ketika beliau bilang bahwa Selly yang mengatakan.
Dikelas
3 inilah hatiku benar-benar hancur. Semua teman-temanku membenciku karena ulah
Selly ketika kelas 2 dulu, dan ketika kelas 3 aku hanya mempunyai Selly sebagai
sahabatku, namun ternyata dia berhianat dan menusukku dari belakang. Tapi aku
selalu bersyukur kepada Allah, karena cobaan demi cobaan itu aku selalu
berusaha untuk kuat dan lebih dekat dengan Nya.
Banyaknya
cobaan membuatku merasa sangat lama bersekolah di SMK Pelita ini. Akhirnya
waktu kelulusan pun tiba, sujud syukur kepada Allah yang memberikanku hadiah
terindah. Ketika lulusan dan dengan disaksikan Ibuku aku mendapat Rangking 9,
aku mendapat juara 10 besar. Bahkan aku adalah siswa terbaik dalam ujian
praktek akhir perakitan komputer dan server Internet, kini mutiara impian telah
kugenggam. Sungguh jika kita menghitung nikmat Allah, kita tidak mungkin bisa
menjumlahnya, dan sungguh Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya
diluar batas kemampuan hamba-Nya.
Teman-tamanku
yang tadinya membenciku satu per satu memberi ucapan selamat dan minta maaf,
kecuali Selly. Entah, mungkin karena dia merasa malu dan belum mau mengakui
kesalahannya. Diakhir cerita, 1 minggu setelah kelulusan dikabarkan Selly akan
menikah karena telah hamil diluar nikah. Inalillahi wa innailaihirajuin segala
sesuatu akan kembali pada Allah. Kejadian ini mengingatkan saya pada firman
Allah surat Al-Baqarah ayat 286
“Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala
(dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya. . . . . .”
Oleh : Fitri Fajar Nur Indahsari//Az-Zahra Astari

