Minggu, 17 Maret 2013

Pemuda Penggoncang Dunia

Pemuda Penggoncang Dunia
Oleh:
Fitri Fajar Nur Indahsari
Penerima Beasiswa Unggulan KEMENDIKBUD
FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pekan-pekan sebelumnya beberapa pemuda membahas tentang pendidikan yang dikemas hingga menjadi tulisan yan istimewa. Berbicara terntang pendidikan, tentu tidak dapat meninggalkan hal-hal yang membuaat peserta didik bergerak maju menuju sebuah proses kedewasaan dan menjadikan ia sebagai pemuda sejati.
Dalam peristiwa Sumpah Pemuda, Generasi muda merupakan komponen utama untuk melakukan perubahan, dimana pemuda saat itu menjadi pelopor persatuan nasional, mungkin tanpa adanya campur tangan pemuda dalam sejarah perjuangan bangsa,
kita tidak dapat merasakan nikmatnya kemerdekaan, indahnya hidup tanpa adanya penjajahan dan kediktatoran serta ketidakadilan penguasa negeri saat ini. Maka tidak heran jika founding father bangsa ini, Ir. Soekarno, berkata: Berikan aku 100 orang tua, maka akan kupindahkan Mahameru. Tapi berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia“.
Situasi global yang semakin mencekang serta melejitnya dunia IPTEK membuat pemuda terbuai. Globalisasi membawa berbagai macam perubahan dalam jiwa pemuda-pemuda Indonesia, memang tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan merupakan satu hal yang wajar untuk terjadi . Perubahan-perubahan itu ada yang sifatnya baik, namun tidak sedikit pula perubahan-perubahan yang sifatnya mengantar pemuda Indonesia pada keterpurukan. Sifat konsumtif tidak dapat terhindari, situs yang merusak moral dengan mudah diakses, tayangan televisi yang tidak mendidik semakin marak disiarkan. Banyaknya generasi muda yang terjerumus ke dalam lembah kebodohan karena tidak mampu menyeimbangakan konsumsi Teknologi dan tayangan yang pantas ditonton tidak dapat dipungkiri lagi. Belum lagi banyaknya pemuda yang terjebak dalam lingkaran apatisme, hedonisme, yang mengarah pada antisosial.
·           Masalah Kita
Permasalahan yang dihadapi bangsa kita saat ini cukup besar dan sulit diselesaikan apabila pemuda penerus bangsa bermental antisosial. Masalah yang paling kompleks adalah masalah kepemimpinan. Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mampu mengubah bangsa ini ke arah yang lebih baik serta mampu “mengemban” amanat rakyatnya. Masalah yang sering kali dihadapi pemimpin-pemimpin kita adalah masalah kepercayaan. Dimana sering kali pemimpin yang terpilh tidak dapat menunjukkan kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin, tidak berkomitmen hanya duduk diatas kursi kekuasaan tanpa mempedulikan masyarakat.
Sebenarnya masih banyak pemuda yang peduli terhadap masa depan bangsa kita namun mereka seringkali menunggu banyak orang, dan tidak mau menjadi pemimpin dari gerakan yang bersifat mambangun bangsa. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana caranya mengajak pemuda-pemuda lainnya untuk ikut aktif berkontribusi dalam membangun negeri ini.
·           Aksi nyata
Melihat kenyataan yang terjadi, dibutuhkan sosok pemuda yang dapat melakukan aksi perbaikan bangsa, untuk itu kita sebagai pemuda harapan bangsa, pemuda yang mampu menguncang dunia  harus melakukan optimalisasi diri, meneguhkan pendirian serta berkomitmen, mulailah dari hal-hal yang kecil, mulailah dari diri kita sendiri.
Jangan tinggalkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia karena kita, pemuda Indonesia, ahli waris cita-cita bangsa dan generasi penerus. Perjuangan kita untuk Indonesia saat ini sudah bukan lagi dengan bergerilya, dan berunding sana-sini, namun perjuangan yang dapat kita lakukan untuk memaknai kemerdekaan dan menunjukkan nasionalisme kita.
Terbentuknya gerakan Boedi Oetomo sebagai organisasi yang boleh dikatakan sebagai titik awal terbentuknya organisasi yang bersifat nasional. Dilanjutkan dengan perjuangan generasi 1928 yang berhasil mempelopori persatuan nasional melalui Sumpah Pemuda. Dahsyatnya Wikana dan Yusuf Kunto dalam Peristiwa Rengasdengklok, adalah beberapa contoh aksi nyata para pemuda pada era dulu. Namun sulit bagi kita untuk menemukan semangat semacam itu lagi dalam jiwa pemuda Indonesia di era globalisasi semacam ini.
Indonesia membutuhkan peran kita saat ini. Aksi nyata yang paling efektif sebagai mahasiswa adalah dengan bersikap profesional di bidang kita. Membentuk sebuah gerakan nonanarkis dengan tujuan memperbaiki bangsa yang tersusun rapih yang berlandaskan visi searah adalah aksi selanjutnya. Integritas akhlak dan kepribadian sangat dibutuhkan dalam aksi ini, sikap ini dapat dilatih dengan cara aktif berorganisasi di kampus atau lingkungan masyarakat, organisasa ini lah yang akan membentuk kendewasaan pikiran, peningkatan daya analisis, dan kemampuan untuk bekerja dalam tim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar