Senin, 18 Maret 2013

Mahasiswa ideal, pemersatu Umat

Islam adalah agama terbesar yang dianut sekitar 205 juta jiwa di Indonesia (Pew Forum;2012), namun demikian Negara Indonesia belum dapat dikatakan negara Islam. Kurangnya pengertian Islam secara kaffah inilah yang menjadi faktor Indonesia belum dapat disebut negara Islam, oleh karena itu perlu adanya usaha pemasyarakatan islam lebih dekat, dimana pemuda atau mahasiswa adalah senjata utama untuk menanamkan nilai-nilai keislaman. Hal ini dikarenakan mahasiswa dianggap telah mempunyai idealisme yang sudah seharusnya berpikir dan bertindak bagaimana memperbaiki kondisi negara menjadi ideal. Namun begitu, situasi global yang semakin mencekam serta melejitnya dunia IPTEK membuat penduduk peribumi ini semakin terbuai. Globalisme yang menghembuskan badai globalisasi membawa berbagai macam perubahan dalam jiwa dan moral bangsa Indonesia.

Perilaku konsumtif dengan alasan penyesuaian zaman tak dapat lagi dihindari, belum lagi banyaknya pemuda kita yang terjebak dalam lingkaran apatisme, hedonisme, yang akhirnya berdampak pada sikap antisosial. Hubungan antar pemuda dan masyarakat seperti dibatasi oleh dinding tebal yang saling menunjukan kekuatan egoisme.
“Mahasiswa”, gelar agung yang disematkan kepada pemuda yang meneruskan pendidikannya diperguruan tinggi bukanlah sebuah gelar yang main-main. Mahasiswa pada dasarnya mempunyai peranan yang lebih compleks untuk menanggani kasus antisosial ini. Sebagai kaum berintelektual yang mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, harusnya Mahasiswa berani memasang badan hingga mengorbankan darah dan nyawanya sebagai prasyarat perubahan sosial. Akhir-akhir ini peran mahasiswa yang seperti itu mengalami pergeseran nilai, dimana banyak mahasiswa yang hanya berorientasi pada nilai akademis, tanpa melakukan aksi nyata, yang dapat dirasakan oleh masyarakat, sehingga memunculkan ketidakpercayaan masyarakat kepada mahasiswa. Oleh karena itu, dibutuhkan usaha untuk mengubah pandangan masyarakat tentang mahasiswa sebagai langkah awal mendekatkan islam. Dimana sebanarnya masih banyak mahasiswa ideal yang berani bertindak sebagai agen perubahan atau pencetus perubahan, social control, serta iron stock (generasi penerus).
Langkah awal yang harus dilakuakn mahasiswa sebagai agen perubahan atau pencetus perubahan adalah memperbaiki individualnya, mulai dari menentukan visi-misi kedepan serta pandangan hidup. Memperbaiki diri sendiri untuk menjadi pribadi yang benar inilah yang sangat sulit untuk mahasiswa di era ini, banyak dari mereka yang terpengaruh pada pergaulan sehari-hari serta lingkungannya, tidak sedikit pula mental Mahasiswa kita telah ditengelamkan oleh perkembangan zaman, dimana mereka seringkali menunggu banyak orang untuk bertindak, bahkan tidak mau menjadi pemimpin dari gerakan yang bersifat mambangun bangsa. Sebagai pencetus perubahan harusnya mahasiswa dapat berperan aktif secara Independent sesuai dengan idealisme mereka.
Sebagai kontrol sosial, ketika ada permasalahan dalam masyarakat dan pemerintah, mahasiswa diharapkan bertindak dengan ilmu dan kelebihan yang mereka miliki. Misalnya ketika ada permasalahan dalam masyarakat dan pemerintah, dimana masyarakat merasakan bahwa pemerintah hanya memikirkan dirinya sendiri dalam bertindak dan tidak menepati janji, Mahasiswa sudah selayaknya memberontak terhadap kebusukan-kebusukan dalam birokrasi yang selama ini dianggap lazim. Dimana aksi berontak kaum mahasiswa dalam kontrol sosial tidak hanya turun ke jalan dan melakukan anarkisme, tapi juga dapat ditambah dengan hal yang substansial, misalnya memperbanyak diskusi. Dengan didukungnya pokok-pokok pikiran yang didapatkan melalui diskusi, mahasiswa akan mejadi lebih bijak dalam mengatasi masalah dilingkungan masyarakat maupun pemerintah.
Peranan mahasiswa yang tak kalah pentingnya di era globalisasi ini adalah sebagai pengganti generasi-generasi sebelumnya dimana mahasiswa diharapkan mempunyai loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa. Tidak hanya dengan kemampuan yang dimiliki namun mahasiswa diharapkan memiliki ketrampilan dan akhlak yang mulia utnuk menjadi penerus generasi pendahulu. Keaktifan mahasiswa dalam berorganisasi sangat berpengaruh terhadap kualitas mahasiswa. Kaderasasi yang baik dan penanaman nilai yang baik juga akan meningkatkan kualitas mahasiswa yang menjadi calon pemimpin masa depan. Selain memperkaya pengetahuan yang ada terhadap masyarakat, mahasiswa juga memerlukan untuk mempelajari berbagai kesalahan yang ada pada generasi sebelumnya sehingga menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan diri.
Mengembalikan pandangan masyarakat tentang mahasiswa inilah kunci utama memasyarakatkan islam. Diembannya nilai-nilai mahasiswa ideal sebagai pencetus perubahan, social control, dan generasi penerus dapat merobohkan tembok egoisme serta menyatukan kembali peranan pemuda dan masyarakat, sehingga perjalanan dakwah para pemuda dan masyarakat dapat semakin mudah dan dapat dirasakan langsung dampaknya oleh lingkungan sekitar, dan pastilah usaha memasyarakatkan islam dalam lika-liku arus globalisasi lebih terbuka dan dapat diterima semua kalangan.

2 komentar:

  1. andai aku mahasiswa...
    Tapi sekolah tak ada biaya...
    Mungkin lebih baik aku jadi mahaguru...
    sari.../

    BalasHapus