Islam adalah agama terbesar yang dianut sekitar 205 juta
jiwa di Indonesia (Pew Forum;2012), namun demikian Negara
Indonesia belum dapat dikatakan negara Islam. Kurangnya pengertian Islam secara
kaffah inilah yang menjadi faktor Indonesia belum dapat disebut negara Islam,
oleh karena itu perlu adanya usaha pemasyarakatan islam lebih dekat, dimana
pemuda atau mahasiswa adalah senjata utama untuk menanamkan nilai-nilai
keislaman. Hal ini dikarenakan mahasiswa dianggap telah mempunyai idealisme
yang sudah seharusnya berpikir dan bertindak bagaimana memperbaiki kondisi
negara menjadi ideal. Namun begitu, . Globalisme yang menghembuskan badai globalisasi membawa
berbagai macam perubahan dalam jiwa dan moral bangsa Indonesia.
Perilaku konsumtif dengan alasan penyesuaian zaman tak dapat lagi dihindari, belum lagi banyaknya pemuda kita yang terjebak dalam lingkaran apatisme, hedonisme, yang akhirnya berdampak pada sikap antisosial. Hubungan antar pemuda dan masyarakat seperti dibatasi oleh dinding tebal yang saling menunjukan kekuatan egoisme.
Perilaku konsumtif dengan alasan penyesuaian zaman tak dapat lagi dihindari, belum lagi banyaknya pemuda kita yang terjebak dalam lingkaran apatisme, hedonisme, yang akhirnya berdampak pada sikap antisosial. Hubungan antar pemuda dan masyarakat seperti dibatasi oleh dinding tebal yang saling menunjukan kekuatan egoisme.
“Mahasiswa”, gelar agung yang disematkan kepada pemuda yang
meneruskan pendidikannya diperguruan tinggi bukanlah sebuah gelar yang
main-main.Mahasiswa pada dasarnya mempunyai
peranan yang lebih compleks untuk menanggani kasus antisosial ini. Sebagai kaum
berintelektual yang mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, harusnya Mahasiswa
berani memasang badan hingga mengorbankan darah dan nyawanya sebagai prasyarat
perubahan sosial. Akhir-akhir ini peran mahasiswa yang seperti itu mengalami
pergeseran nilai, dimana banyak mahasiswa yang hanya berorientasi pada nilai
akademis, tanpa melakukan aksi nyata, yang dapat dirasakan oleh masyarakat, sehingga
memunculkan ketidakpercayaan masyarakat kepada mahasiswa. Oleh karena itu,
dibutuhkan usaha untuk mengubah pandangan masyarakat tentang mahasiswa sebagai
langkah awal mendekatkan islam. Dimana sebanarnya masih banyak mahasiswa ideal
yang berani bertindak sebagai agen perubahan atau pencetus perubahan, social
control, serta iron stock (generasi penerus).
Langkah awal yang harus dilakuakn mahasiswa sebagai agen
perubahan atau pencetus perubahan adalah memperbaiki individualnya, mulai dari
menentukan visi-misi kedepan serta pandangan hidup. Memperbaiki diri sendiri
untuk menjadi pribadi yang benar inilah yang sangat sulit untuk mahasiswa di
era ini, banyak dari mereka yang terpengaruh pada pergaulan sehari-hari serta
lingkungannya, tidak sedikit pula mental Mahasiswa kita telah ditengelamkan
oleh perkembangan zaman, dimana mereka seringkali menunggu banyak orang untuk
bertindak, bahkan tidak mau menjadi pemimpin dari gerakan yang bersifat
mambangun bangsa. Sebagai pencetus perubahan harusnya mahasiswa dapat berperan
aktif secara Independent sesuai dengan idealisme mereka.
Sebagai kontrol sosial, ketika ada permasalahan
dalam masyarakat dan pemerintah, mahasiswa diharapkan bertindak dengan ilmu dan
kelebihan yang mereka miliki. Misalnya ketika ada permasalahan
dalam masyarakat dan pemerintah, dimana masyarakat merasakan bahwa pemerintah
hanya memikirkan dirinya sendiri dalam bertindak dan tidak menepati janji, Mahasiswa
sudah selayaknya memberontak terhadap kebusukan-kebusukan dalam birokrasi yang
selama ini dianggap lazim. Dimana aksi berontak kaum mahasiswa dalam kontrol
sosial tidak hanya turun ke jalan dan melakukan anarkisme, tapi juga dapat
ditambah dengan hal yang substansial, misalnya memperbanyak diskusi. Dengan
didukungnya pokok-pokok pikiran yang didapatkan melalui diskusi, mahasiswa akan
mejadi lebih bijak dalam mengatasi masalah dilingkungan masyarakat maupun
pemerintah.
Peranan mahasiswa yang tak kalah pentingnya di era
globalisasi ini adalah sebagai pengganti generasi-generasi sebelumnya dimana
mahasiswa diharapkan mempunyai loyalitas tinggi terhadap kemajuan bangsa. Tidak
hanya dengan kemampuan yang dimiliki namun mahasiswa diharapkan memiliki
ketrampilan dan akhlak yang mulia utnuk menjadi penerus generasi pendahulu. Keaktifan
mahasiswa dalam berorganisasi sangat berpengaruh terhadap kualitas mahasiswa.
Kaderasasi yang baik dan penanaman nilai yang baik juga akan meningkatkan
kualitas mahasiswa yang menjadi calon pemimpin masa depan. Selain memperkaya
pengetahuan yang ada terhadap masyarakat, mahasiswa juga memerlukan untuk
mempelajari berbagai kesalahan yang ada pada generasi sebelumnya sehingga
menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan diri.
Mengembalikan pandangan masyarakat tentang mahasiswa inilah
kunci utama memasyarakatkan islam. Diembannya nilai-nilai mahasiswa ideal sebagai
pencetus perubahan, social control, dan generasi penerus dapat merobohkan
tembok egoisme serta menyatukan kembali peranan pemuda dan masyarakat, sehingga
perjalanan dakwah para pemuda dan masyarakat dapat semakin mudah dan dapat
dirasakan langsung dampaknya oleh lingkungan sekitar, dan pastilah usaha
memasyarakatkan islam dalam lika-liku arus globalisasi lebih terbuka dan dapat
diterima semua kalangan.


andai aku mahasiswa...
BalasHapusTapi sekolah tak ada biaya...
Mungkin lebih baik aku jadi mahaguru...
sari.../
maafkn aq...ri
BalasHapus